DBR #39 The Silkworm (Cormoran Strike #2)

The Silkworm - Robert Galbraith

The Silkworm – Robert Galbraith

Sinopsis :

Seorang novelis bernama Owen Quine menghilang. Sang istri mengira suaminya hanya pergi tanpa pamit selama beberapa hari—seperti yang sering dia lakukan sebelumnya— lalu meminta Cormoran Strike untuk menemukan dan membawanya pulang.

Namun, ketika Strike memulai penyelidikan, dia mendapati bahwa perihal menghilangnya Quine tidak sesederhana yang disangka istrinya. Novelis itu baru saja menyelesaikan naskah yang menghujat orang banyak—yang berarti ada banyak orang yang ingin Quine dilenyapkan.

Kemudian mayat Quine ditemukan dalam kondisi ganjil dengan bukti-bukti telah dibunuh secara brutal. Kali ini Strike berhadapan dengan pembunuh keji, yang mendedikasikan waktu dan pikiran untuk merancang pembunuhan yang biadab tak terkira.

(cr : goodreads)

~oOo~

Tjieeee ibu Rowling beraksi lagi tjieeee..

Sejak baca buku pertama Galbraith yang sangat super sexy sekali, akhirnya saya memutuskan beli buku keduanya. Karena, yah, seru. Harus baca!

Di buku yang kedua ini, abang Strike harus menemukan penulis miskin nan payah yang hilang, yaitu Owen Quine. Ternyata oh ternyata, sang penulis akhirnya ditemukan udah meninggal dengan mengenaskan.

Karena sang penulis baru selesai menulis buku baru tuh ceritanya, akhirnya semua orang merujuk ke buku itu sebagai salah satu faktor penting dalam pembunuhan ini.

Akhirnya dibahas deh segala seluk beluk detail buku itu. Mulai dari reaksi pembaca-pembaca terlarang nya, orang-orang di sekitar Quine yang sangat unik, dan sebagainya. Ga lupa juga, bumbu-bumbu kehidupan pribadi abang Strike dan mbak Robin, yang sama-sama mendukung cerita.

Kesan saya gimana? WELL NOW WE’RE TALKING!

1. Saya berharap lahir di Inggris. 

Or, at least, lebih ngeh dengan kulturnya dan hal-hal yang berbau Inggris. Ya pokoknya gitulah.

Habisnya, latar tempat dan sebagainya dari buku ini kental banget sama suasana lokal di sana, dan ga sedikit istilah yang merujuk ke hal-hal umum yang seharusnya familiar sama orang-orang sono. Sayangnya, saya orang sini. Jadi ya tau-nya yang disini-sini aja.. #lalusedih

Yah, hal-hal kaya tube di sana, Jalur yang disebut M4, Rumah makan Simpson’s in the strand (go and google this place – it looks AWESOME.), jubah Tyrol, Minuman Doom bar.. dan banyak hal lainnya.

Pola Catur di pintu masuk ; Simpson's in the strand! Yeah I can totally see Cormoran Strike and Waldegrave standing around the corner..

Pola Catur di pintu masuk ; Simpson’s in the strand! Yeah I can totally see Cormoran Strike and Waldegrave standing around the corner..

Jaket Tyrol yang legendaris, saudara-saudara.. entah bener maksud penulis model begini atau enggak. whatever.

Jaket Tyrol yang legendaris, saudara-saudara.. entah bener maksud penulis model begini atau enggak. whatever.

Bir yang berulang kali disebut, The Legendary Doom Bar :<

Bir yang berulang kali disebut, The Legendary Doom Bar :<

Yeap, ternyata bir ini betul-betul dari Cornwall - "kampung halaman" Cormoran.

Yeap, ternyata bir ini betul-betul dari Cornwall – “kampung halaman” Cormoran.

Ya keles, kan gak kece banget harus cek ke google tiap berapa paragraf gara-gara deskripsi dari barang asing yang ga lazim di Indonesia.. :< #protes

Tapi lumayan memukau juga sih. Bahkan segenap detail-nya di urusin. Kalo baca kolom terimakasihnya, si bu Rowling bahkan bilang dia sempet-sempetnya dateng ke setting tempat yang dia pake untuk scene Robin pulang kampung, which is.. kota Masham,

Dedikasinya.. yah, totalitas berkarya emang juga budaya barat yang patut banget ditiru sih. Gak heran kalo bukunya jadi sangat terkenal sekali. Riset yang melatarinya aja heboh dan serius. Ga heran hasilnya juga serius..

ANYWAYS! jadi pengen baca buku aslinya yang bahasa Inggris, karena saya yakin permainan bahasanya yang pasti nendang banget. Padahal belom tentu ngerti tapi belagak selangit.. tipikaaall hahaha

2. J.K. Rowling seneng memuji diri, pamer!?

Hehe. Maksudnya, baca aja tuh pernyataannya Michael Fancourt ..

“Saya mengatakan bahwa para penulis perempuan yang paling berhasil, hampir tanpa terkecuali, tidak memiliki anak. Fakta.”

(pg 352)

Daaan dengan setengah meledek, satu suara di kepala saya teriak-teriak, “J.K Rowling anaknya tigaaaaaa! buku-bukunya best selleeeeeeer!” Trus baru saya sadar, seolah-olah si ibu lagi ngintip di belakang panggung, cekikikan, menunjukkan kesuksesan dia sebagai penulis.. dengan status wanita ber –ekor anak tiga. 😀

Mungkin ga masuk akal buat anda, yah, pokoknya saya ngerasanya gitulahhh.

Satu lagi yang pasti.. Waktu baca buku pertamanya, saya gak sadar. Tapi sekarang tambah sadar.. Dia mengutip buku-buku, atau plays, di awal setiap bab. Seolah lagi menggaplak pembaca yang satu ini dengan bilang, “Nih, list buku yang pernah gue baca. Pasti elo ga kuat baca kaya gue kaaaan~ bacaan gue berat banget lhoo.”

Si ibu ini juga dengan ‘santai’nya membahas seluk beluk dunia penerbitan buku, intrik dalam perusahaan penerbitan, hasrat-hasrat penulis, mimpi-mimpi dan ulasan sastra.. hadeh.. pamernya ga ketolongan.

Ya mungkin aslinya bukan pamer, tapi berhubung pembaca yang satu ini terlanjur sirik karena banyak ga ngerti bahasan sastra, jadi dianggep pamer deh. Hehehehe.

Tapi yang pasti, jelas di buku ini si ibu dengan brilian berhasil bikin topik yang lesu jadi seru. Walaupun ada sihh rasa jenuh di awal-tengah gitu. Tapi rasa penasaran dan lain-lainnya mendorong saya terus baca.

Walaupun aslinya bacaan ini diperuntukkan kalangan yang lebih tua, tapi tetep saya baca… yaudahdehyaa.

3. Strike and team yang jenius.

Rasana wajib deh bahas si abang ini. Soalnya tokoh yang satu ini unik banget. Dari awal baca buku pertama, karakternya sangat khas sekali, dan sampe di buku kedua inipun masih berasa banget bagaimana kuatnya tokoh ini.

Melewati segala rasa frustrasi, kemarahan, rasa ingin tau, juga keterbatasan, dia lanjut terus kaya batu yang ditenggelemin ke dasar laut.

I like this big crippled guy. End of Story.

Saya juga suka sama Robin, asistennya yang penuh semangat. Saya bisa membayangkan jenis antusiasme dia dalam bekerja, yang saya suka banget.

Buku ini ga hanya mengisahkan detektif yang jenius, tapi tim detektif yang berdedikasi dan cinta sama pekerjaannya. Quite inspiring, really. 🙂

Satu yang bikin saya agak ribet sendiri adalah.. karena tokohnya banyak, jadinya kadang lupa dia-itu-siapa kalo jarang disebut. But, well, maybe that’s just me and my slow-paced head.

Jadi. Buku ini direkomendasi untuk dibaca. Karena bagus. 😀

Happy reading, folks! ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s