DBR #41 Selingkuh

Selingkuh (Adultery) - Paulo Coelho

Selingkuh (Adultery) – Paulo Coelho

So. Buku ini cerita soal Linda yang merasa ‘tidak bahagia’ walaupun dia punya kehidupan yang bisa dibilang ‘sempurna’. Akhirnya Linda jatuh dalam lubang-lubang yang kelam, satu kesalahan menuju kesalahan yang lain..

Linda berusaha mencari apa yang salah. Tapi ditengah kesibukannya mencari apa yang salah, dia malah tambah hidup dengan lebih ‘salah’ lagi. Tapi lewat petualangannya itu dia jadi belajar soal cinta, soal kasih, soal menghargai hidup kembali…

ya kira-kira begitulah. Sepertinya.

Sebetulnya pengen nulis review ini dalam bahasa Inggris aja, habisnya merasa terlalu awkward untuk ngomongin buku ini dengan bahasa ibu sendiri, dan kalo ngomongin pake bahasa Inggris terasa lebih enteng seolah-olah ga perlu terlalu bertanggung jawab dengan tulisan sendiri…. Tapi karena ini buku hasil sponsor dari toko buku scoop, saya jadi merasa wajib bikin review dlm bahasa Indonesia.. supaya target pasar yang orang Indonesia bisa ngerti dengan lebih mudah. 😀

Dari kalimat-kalimat awal saya menulis mungkin anda-anda semua bisa mulai mengira-ngira bagaimana kesan saya terhadap buku ini.

yang pertama, saya mau mengaku dosa sebelum saya merasa lebih suram lagi.

1. Saya baru 19, tahun ini 20 tahun, bulan September nanti. Saya belum menikah, punya pacar juga belom. Padahal ini novel dewasa dan harusnya, yah, targetnya pembaca dewasa dan sudah menikah.

Banyak adegan di buku ini yang mungkin buat orang lain gak apa-apa dibaca sama seseorang dengan umur seperti saya karena memang dimana-mana 19+ dianggap sudah cukup matang untuk menangani informasi beginian, tapi saya sejujurnya paling ga sreg sama buku yang mengandung beginian. Mungkin bisa disebut personal preference? Idk.

Oh, ya. ‘Beginian’nya maksudnya adegan hubungan intim suami istri.

Iya, saya seperti manusia lain memang juga merasa penasaran pastinya menghadapi hal-hal kaya begini. Tapi baca beginian selalu bikin hati ga enak, jadi.. mungkin satu faktor besar ini bakal bikin hasil yang sangat bias di review saya.

2. Saya biasanya memberi waktu sampe saya merasa ‘siap’ menghadapi satu buku kalo misalnya kisah yang saya baca saat itu belum bisa saya terima. Maksudnya gimana ya… hmm. Jadi kaya dulu saya rasanya males dan ga seneng baca buku terakhir serial inheritance-nya Christopher Paolini, saya biarin sampe beberapa tahun baru saya rasa buku itu bisa saya konsumsi, dan dengan senang hati dan memuaskan saya bisa baca dan bahkan merasa betul-betul terkagum.

My point is.. karena buku ini, sekali lagi, adalah hasil sponsor-an dari toko buku, saya merasa dikejar tanggung jawab untuk menyelesaikan buku ini dengan secepat-cepatnya supaya bisa segera di review.

Saya merasa ga punya luxury untuk menunggu dan menunda sampe buku ini tepat buat saya. Dan akhirnya saya merasa bete waktu baca.. karena dari awal saya baca buku ini, saya sadar bahwa kepala saya belum siap untuk dipertemukan dengan kisah yang satu ini.

Okay, too much excuses. Terus kenapa beli dong?

Waktu ditawarin buku ini dengan harga murah, saya otomatis mau karena saya melihat testimoni banyak orang yang bahagia banget baca buku ini, dan berhasil memetik berbagai pelajaran berharga.

Saya juga pingin belajar lewat buku ini, dan akhirnya memutuskan mau baca. Tapi ternyata pelajaran yang tersedia rupanya beda dengan yang dibayangkan.. dan akhirnya malah berasa kaya racun. I’m so sorry for this. I know this is my fault, I should’ve done better. But it happened, so here I am trying to sweep all the dust it had left.

Kalo orang lain bisa belajar banyak dari buku ini, well, ga dipungkiri memang buku ini mengandung banyak banget pelajaran yang ga bisa dibilang dangkal. Dan bahkan banyak pertanyaan Linda (si tokoh utama) yang sebetulnya merefleksikan pertanyaan-pertanyaan saya sendiri mengenai hidup.

Tapi sangat sering saya menemukan buku ini bicara terlalu personal dengan saya, dengan cara berpikir yang bisa dibilang terlalu berbeda dengan saya, dan membuat saya jadi agak ga suka..

Belum lagi penjelasan soal perenungan si Linda dan semua rangkaian puitis lainnya.. If only I had the right set of mind to face this book, maybe, just maybe, I’d see it differently. Maybe I’d appreciate it, and I’d actually took time to understand and ‘digest’ deeper.. But I didn’t read this with such set of mind, and so.. yeah. it sucks.

Sejujurnya saya bakal kasih satu bintang doang untuk buku ini karena saya gak sabar dengan cara mikirnya Linda yang.. yah, mungkin bisa dibilang belum bisa saya mengerti. Atau belum bisa saya nikmati dan hayati? Mungkin karena saya terlalu muda. Blame me for being the wrong reader, please.

Saya tau karya ini sebetulnya mengandung begitu banyak nilai dan cukup fenomenal, tapi saya merasa saya belum siap untuk itu semua.

Saya harus betul-betul memaksa diri membaca ini buku sampai akhir, karena hampir di tiap balikan buku, saya merasa menderita bacanya. Sorry for being this way, people.

Dan maaf karena harus mengakhiri review dengan nada seperti ini… I’m truly sorry.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s