DBR #42 Career of Evil (Cormoran Strike #3)

Processed with VSCO with f2 preset

Career of Evil – Robert Galbraith

Sebuah paket misterius dikirim kepada Robin Ellacott, dan betapa terkejutnya dia ketika menemukan potongan tungkai wanita di dalamnya.

Atasan Robin, detektif partikelir Cormoran Strike, mencurigai empat orang dari masa lalunya yang mungkin bertanggung jawab atas kiriman mengerikan itu—empat orang yang sanggup melakukan tindakan brutal.

Tatkala polisi mengejar satu tersangka pelaku yang menurut Strike justru paling kecil kemungkinannya, dia dan Robin melakukan penyelidikan sendiri dan terjun ke dunia kelam tempat ketiga tersangka yang lain berada. Namun, waktu kian memburu mereka, sementara si pembunuh kejam kembali melakukan aksi-aksi yang mengerikan…

~oOo~

After such a long hiatus, I am finally coming back to book blogging, oh yeah! 😀

Langsung ke TKP, first thing first, bagaimana pendapat saya mengenai buku yang satu ini setelah membaca ekstensif selama beberapa hari di atas kereta?

Saya gak terlalu mengerti kenapa, tapi rasanya buku ini tidak se-mengejutkan buku-buku sebelumnya, dan hal itu membuat saya agak mules karena kzl. (baca : kesal, maklum saya anak gaul alay.)

Okay, jadi pada buku ini ada banyak sekali yang terjadi. Let me flatter the whole thing first.

1.New POVs!

Di buku ini, Mr. Galbraith mencoba sisi penceritaan yang baru, yaitu lewat sudut pandang sang pelaku, or the “crime master”, they say. Yes, kalau kalian ada kecenderungan menikmati adegan-adegan yang agak berbau psikopatik, you’ll love this, karena setiap bab yang menceritakan si pelaku, yah, cara berpikirnya didalami sekali dengan menceritakan pikiran-pikiran tergelapnya, bahkan waktu mengincar korban dan proses membunuh/menyakitnya. Let’s stop there sebelum makin banyak spoiler keluar. 🙂

SO, yep, ini satu hal yang sangat berbeda dengan dua buku sebelumnya karena ada sudut pandang baru.

2. Great concern for detail – loved it.

Di buku ini dipakai banyak sekali setting tempat. Barrow in furness, Catford Shopping Centre, the subway stations, to mention a few. Penggambaran nuansa maupun kondisi peletakannya bisa dibilang tingkat lanjut – detail, tapi gak membosankan, justru mendukung suasana ceritanya. That’s what you call genius gak sih.

Next, penulis juga menceritakan dengan detail pendalaman tiap karakternya. Kondisi hati, gaya bicara, gerakan tubuh.. Wah. Contohnya waktu Strike menemui anggota forum online di restoran mahal dan diceritakan gerak-gerik orang-orang itu.. *the attention to detail was amazing*. 🙂 *jangan dilanjutin yah, nanti spoiler*

Senangg deh kalau baca cerita model begini. Ketahuan jelas bagaimana sang penulis gak ngasal, and did his (eh, her) part of research.

3. A great chance to learn deeper about the characters!

Yaaas. Buat saya dan kalian yang lapar akan kisah slice-of-life dari Robin dan Strike, congratulations, this is the book for us.

Cerita mendalam tentang masa lalu (dan masa kini?) kehidupan mereka disorot dengan lumayan intens di buku ini, dan mungkin lumayan menyenangkan karena kalau kata pepatah tak kenal maka tak sayang kaaaan, jadi di buku ini kita semua dapat kesempatan mengenal kedua tokoh favorit (?) kita ini lebih dalam.

Alright then.

Up to this point, my review would pass as a great advertising piece, but too bad, I am not writing an endorsement, I’m writing an honest review. So here we goeeee.

As good as the plus points mentioned above…

Ceritanya tidak memberikan tendangan surprise yang saya tunggu-tunggu dan jadi keunggulan dua buku sebelumnya. Saya sangat semangat sama buku ini karena saya lapar dengan kisah yang brain picking atau menggelitik rasa penasaran dan dipecahkan dengan kecerdasan. Tapi yang saya dapat, well, mostly drama. Entah kenapa di buku ini ceritanya sangat penuh perasaan (?). Tentu, ada bagusnya model bercerita seperti itu. Tapi saya tidak datang untuk itu, dan jadi agak (sangat) kecewa. Ga pecahhhh gitu rasanya.

Buat apa ada dinamika karakter begitu banyak? walaupun ya, memang jadi bukti kepiawaian sang penulis menceritakan karakter manusia, menceritakan detail, tapi di saat yang sama rasanya kurang ada kontribusi ke cerita utamanya. Jadi bingung deh, sebetulnya ini buku apa sih? Cerita utamanya yang mana? Cerita dinamika manusia? Slice of life? Apa mau menceritakan kasus?

Yes, some will say dua-duanya, tapi rasanya jadi hambar karena terlalu banyak bumbu lain selain proses investigasi. Seolah-olah proses investigasi dipakai cuma untuk kendaraan menceritakan dinamika hidup Strike, Robin, pelaku, karakter-karakter yang lain… dan sebagainya. (Belum lagi drama “hubungan” Strike dan Robin yang di tarik sampai ending… duh….)

Mengecewakan? yes.

Then comes the new POV. I’m not complaining, really. It was great. Tapi jadi terasa timpang dan meraba-raba karena harus menyeimbangkan cerita dengan mendalami karakter si pelaku. DAAAAN sampai akhir saya gak ngerti apa yang menyebabkan obsesi si pelaku sama Strike. Atau karena saya udah terlanjur bete makanya ga ngeliat juga? Well. Either way, sayang sekali.

Selain itu, A-ha moment dan pemecahan kasusnya hambar sekali saudara-saudara sekalian. Panggil saja karena mawar. And that’s it….. That’s it!?

Kecewa berat deh karena ini. Sibuk banget yeee nyeritain idup karakternya, gak mau nyeritain pemecahan kasus yang lebih kece? oke tante fine bye :”” #AnakLabilNgambek

Anyways. No matter how and what, keunggulan penulis yang masih ‘hidup’ di jaman ini adalah… SUPER HUGE FREE CHANCE TO NUMEROUS ADAPTATIONS YAAAY. Bakal ada adaptasi TV show-nya sendiri, and trust me, a movie of its own, not long after. Jajajajaja me likey!

One more thing to comment : dear translator, kenapa harus “titian kejahatan” sih? just curious, really. :>

All in all, sepertinya 3/5 points masih boleh lah, untuk kepiawaian sang penulis. Cheers.

*Btw, maafkan kemingris-an saya yang sok nyampur-nyampur ingelis sama Bahasa Indonesia dan mungkin bikin gak enak bacanya ya, maklum anak gaul alay. :>

Tell me what you think! Sudah baca belum? 😉

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s