DBR #29 Si Kembar di Sekolah yang Baru

image

Enid Blyton – Si Kembar di Sekolah yang Baru

senang deh bisa baca cerita ini lagi. Kisahnya tentang Patricia dan Isabel O’Sullivan, kembar yang baru pindah sekolah dan temperamennya buruk. Sebetulnya tidak buruk-buruk amat sih tapi mereka sengaja bersikap menyebalkan karena kecewa dengan pilihan sekolah lanjutan mereka yang baru, St. Clare, yang seolah tidak ada prestis-nya.

Mereka pada awalnya dijuluki kembar angkuh karena sikap mereka yang luar biasa menyebalkan sebagai anak baru, karena membanding-bandingkan St. Clare dengan sekolah lama mereka yang lebih mahal dan memanjakan. Mereka tadinya adalah kepala murid (sejenis ketua osis) di sekolah yang lama tetapi harus menjadi anak-anak kelas paling bawah di St. clare. Jelas mereka kecewa dan agak tidak bisa menyesuaikan diri. Mereka berusaha keras membuat keributan dan membangkang, hingga harus menghadapi banyak kesulitan akibat perbuatan mereka sendiri.

Pada akhirnya, setelah melalui proses yang panjang dan lumayan melelahkan, merekapun akhirnya belajar banyak hal dan berusaha berubah.

Kisah ini dengan ga langsung mengingatkan saya dengan diri sendiri. Hmm, sampe sekarang saya agak tidak terima dengan universitas yang akhirnya saya masuki sekarang. Seolah belum ada nama, belum ada prestasi dan lain lain, jauh kalah prestis nya denga banyak universitas swasta di Indonesia, dan saya merasakan persis dengan apa yang dirasakan si kembar: kesal, tidak puas, agak ingin berontak dengan apa yang orangtua sarankan. Saya anak paling berprestasi di sekolah! Masa sekarang universitasnya kaya begini?

Walaupun saya sudah tau bahwa pada dasarnya universitas yang akan saya masuki ini memang bagus secara kualitas pelajaran.. Tapi saya tetap rasanya gimanaaa gitu. kan jadi curcol deh hahaha

tapi justru dengan baca buku ini dan “mengingat dan merenungkan kembali” .. Saya rasa saya jadi belajar banyak dari gadis-gadis umur 14setengah tahun ini. Belajar tentang menghargai orang lain, orang tua, peraturan, dan diri sendiri.

Untuk belajar bahwa justru melalui pengalaman seperti inilah saya harus mau diajari menjadi manusia yang tidak besar kepala, tapi menghargai setiap proses dan menjalaninya dengan memberi yang terbaik.

Pat dan Isabel pada akhir cerita mengalami perubahan besar dan akhirnya bekerja keras demi menjadi diri mereka yang terbaik. Saya juga mau seperti itu dong, jangan sampai justru karena ego saya jadinya membatasi diri dan merasa hebat, tidak mau mengembangkan diri.

In the end, saya patut berterimakasih kembali pada Oma Enid Blyton yang sudah menemani masa kecil dan remaja saya. Saya rasa dari dulu sejak membaca kisah-kisah tentang Malory Towers dan St. clare plus banyak serial lainnya, saya jadi banyak belajar tentang hidup.

Highly recommended, semoga buku-buku ini tetap jaya dan bisa dinikmati adik-adik atau anak-anak kita semua sampai bertahun-tahun lagi! ^^

 

harusnya sih ini dalam rangka posting bareng BBI, tapi telat.. Jadi yasud unofficial diikutsertakan deh TT-TT

Iklan

DBR #3 School Friends (series)

School Friends (Ann Bryant)

School Friends (Ann Bryant)

Buku kali ini adalaaaaah.. yap, series school friends oleh Ann Bryant. Sebetulnya ada total 6 buku, tapi baru kebaca 4 buku, n buku ke-empatnya sedang dibaca saat ini. lol.

Yeah, as you can see, gw memang suka genre buku terjemahan dan khususnya kisah anak-anak. Ringan, asik, menyegarkan, dan (biasanya) ada nilai-nilai sosialnya. (ya iyalah, buat anak-anak..)

So. Buku-buku ini .. cerita tentang 6 orang cewek yang bersahabat berkat nasib. Mereka sekolah di Silver Spires, sekolah berasrama, dan tinggal di satu kamar. Setiap bukunya menceritakan tiap cewek yang ada di kamar tersebut, dan memang seru.

Mungkin kalian yang suka cerita-cerita ringan dan girly tapi polos, ini pilihan yang lumayan oke. Buku-buku ini lumayan berhasil bikin gw nostalgila ke masa-masa baca bukunya Enid Blyton, serial-serial Malory Towers dan kawan-kawan. Mirip, tapi lebih modern. Mungkin juga penulisnya terinspirasi oleh Enid Blyton sendiri, who knows? lol.

Kalo udah pernah baca bukunya Enid Blyton , pasti tau feeling cerita-ceritanya kaya apa. Buku-bukunya semua punya plot yang bagus, mengalir dan ga bertele-tele, dan kisahnya dreamy banget. Memang ga bisa dibandingin sama Enid Blyton karena memang levelnya jauh berbeda dan di zaman yang memang juuuaaaauuuh sekali, jadi ceritanya kalo dibandingin bisa dibilang lebih hambar. Tapi ada feeling-feeling yang khas dan unik juga dari buku-buku ini. Punya keunggulan sendiri lah. Yang ga mungkin ditemukan di buku-buku lain. 🙂

Mungkin cewek-cewek zaman sekarang jarang yang suka buku beginian, dan memang buku-buku ini ceritanya lumayan agak bikin boring lama-lama, apalagi buat yang males baca.. Tapi tetep pantes dibaca, karena mengajarkan hal-hal yang baik dalam pertemanan.

Mengajarkan moral dan etika dalam berteman ga harus lewat omelan aja, kan? 😉

Setiap buku hampir selalu plot-nya sama. Ada yang jahat, ada yang baik, dan yang baik selalu yang 6 cewek itu. Haha. Tapi itu juga berarti penulis mau bikin contoh elit yang baik bagi mereka yang sekarang mungkin bisa dibilang sudah hilang kepolosan dan etikanya (?). Si Ann Bryant ga akan berani menulis dan mempublikasikan buku kalo ga ada gunanya kan? 😀

So enjoy the book, guys. Mungkin review kali ini memang ga begitu spesifik karena ngomongin enam buku sekaligus, tapi I believe you’ll enjoy it. 🙂

Have fun!