DBR #11 Rock n Roll Onthel

Rock n Roll Onthel - Dian Nuranindya

Sinopsis:

Saka, anak seorang dalang yang punya cita-cita jadi anak band. Di tengah keluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai tradisional, Saka malah tergila-gila dengan musik rock and roll. So pasti cita-citanya itu ditentang habis-habisan oleh orangtuanya. Apalagi pas tahu kalau Putri, adik kesayangannya yang menjadikan Saka sebagai panutan, tiba-tiba ngotot ingin ikut bersamanya ke kota.

Kenangan kehilangan orang yang dicintai membuat Saka memutuskan untuk berhenti menjadi jawara di Gudang Sembilan, tempat para musisi andal bertempur. Tapi sebuah peristiwa memaksanya kembali ke sana dan naik panggung dengan segala trauma dalam dirinya.

Ternyata situasinya telah berubah. Saka harus memulai semua dari nol. Ia diremehkan karena penampilan, dicaci maki band-band senior, ribet mencari personel band bahkan ia sampai harus merelakan sepeda onthel kesayangannya dijual.

Lalu apakah cita-cita Saka untuk jadi anak band tercapai? Apa orangtua Saka akan menyetujuinya? Terserah! Yang penting, sekali merdeka tetap ROCK and ROLL!

(cr : gramedia)

~oOo~

Sebetulnya agak ragu untuk bikin review buku ini, karena pas baca gw lagi pikirannya kemana-mana, ga konsen.. Memang sih masih nangkep banyak, tapi konsentrasi gw lagi terpecah-belah deh pas baca buku ini.. jadinya mungkin di review ini ga bisa terlalu banyak mengomentari, bahkan mungkin komentar gw agak kurang akurat.. So mohon dimaklumi kalo sampe seperti itu. ^^”

Kisah di rock n roll onthel itu bercerita tentang Saka, anak cowo di kos Soda a.k.a Solidaritas, diambil dari nama jalan tempat kosan tersebut berdiri. Saka ini punya mimpi jadi anak band rock, padahal keluarganya kental dengan adat serta budaya Jawa. Of course, seperti biasa, ortu Saka memang nentang mati-matian. Tapi dia tetep gigih dengan mimpinya.

Sampe akhirnya dikisahkan disini Putri, adiknya, mau ikut melewati jalur yang sama dengan kakaknya. Mulailah kisah naik dan turun seorang Saka dalam perjalanan menggapai mimpi, mempertahankan apa yang berharga buat dia, dan melupakan masa lalu.

Gw udah baca kisah-kisah sebelumnya, dan gw baru notice sesuatu sekarang.. Saka itu dikisahkan sebagai seorang pemuda tanggung yang belum lama lulus SMA.. Dan itulah yang menurut gw bikin cerita agak janggal, karena gaya berpikir dan bertindak Saka ga sesuai sama umur segitu. I mean, sebentar lagi gw bakal menginjak umur yang sama seperti Saka, dan dikit-dikit little little I know lah (walaupun dengan cantelan mode sotoy sih). Karakter anak umur segitu, cara mikir, tutur katanya.. Memang sih ga ada yang bilang ngga mungkin, tapi kalo untuk umumnya.. sepertinya agak kurang mungkin. hahaha.

But anyways mungkin itu juga cuma perasaan gw sih. Hehehe. Lanjutnya, kisah ini dialurkan dengan baik, walaupun naik-turunnya ngga kaya di buku-buku sebelumnya. Mungkin karena takoh utamanya cowok jadi dibuat beda ya? Entahlah. Kalo di buku pertama, Canting Cantiq, dibuat alur yang bener-bener mencerminkan perubahan dari karakter si tokoh berkat perjalanan hidupnya. Di buku kedua, Cinderella rambut pink, hampir mirip. Bagaimana seorang tokoh menemukan ‘cinta sejati’ walaupun si tokoh agak-agak ajaib. Lika-liku kisahnya (seinget gw sih) seru, banyak hal yang ‘dibukakan’ oleh si penulis. (bahasa gueeee, keren bener 😛 )

Tapi di buku yang ketiga ini.. menurut gw kok agak monoton yah. Plot-nya ketebak banget dan hampir terasa hambar.  Walaupun memang, tetap banyak nilai-nilai kehidupan yang bagus di dalamnya.. Tapi rasanya masih kurang menggigit, gitu. hehehe.

Trus kalo masalah kisah cintanya.. yahh, masih kalah jauh laaah sama dua buku sebelumnya. Perkembangan perasaanpun ga dijelasin secara mendetail. Kenapa Saka bisa jatuh cinta? Cuma karena musik? pribadi lawan mainnya Saka juga ngga dijelasin banget-banget, jadi agak ngeraba-raba dan kurang berasa gituuu. Hahaha.

Tapi satu hal yang gw salut dari si penulis.. Buku-bukunya menunjukkan kalo si penulis tau banyak hal. Tau ini itu. Ga sekedar ceplas-ceplos. Kisah-kisah wayang yang menghiasi dan melatarbelakangi hampir 80% dari cerita, penjelasan detail tentang aliran musik rock n roll, pemusik-pemusik legendaris, si penulis berhasil menunjukkan dalam ceritanya kalo ceritanya itu ga didasarkan pengetahuan minim. Applause deh! hehehe

Belum lagi niat besar untuk menggambarkan musik melalui kata-kata.. Wihh, great effort loh. Jadi, ga jelek-jelek banget lah 😉

This is a really enjoyable book! ga nyesel udah beli, ga nyesel udah baca. Terutama karena gw bener-bener udah KANGEN abis sama Jogja, yaitu setting utama di buku-buku seri kosan Soda.. TT_____TT  Memang sih ga dijelasin banyak tentang Jogja sendiri seperti di buku-buku sebelumnya, tapi tetep aja. Bikin diriku ini begitu ingin kembali ke kota ituuu … (lebay mode. padahal tinggal disana aja ga pernah, cuma sekedar jalan2 -____- )

Oh ya, buku ini bisa dibilang terpisah kok dari buku-buku yang lain. Jadi mau langsung baca buku ini tanpa baca yang sebelum-sebelumnya juga tetep oke kok. 🙂

So.. I hope yang lain bisa lebih menikmati buku ini, mungkin bahkan lebih dari gw. Hehehe. Kalo udah baca, bagi2 dong pengalamanmu 😉 Happy reading!

Iklan